Wanita Yang Baik Adalah Wanita Yang Seperti Ini

Ciri-ciri wanita yang baik itu seperti apa? Ada yang tahu dan bisa menjelaskan? Apakah wanita yang baik adalah dia yang mampu merias dirinya bak cinderella bersepatu kaca yang baru turun dari kereta kencana? Ataukah seperti apa?


Karena yang tahu jawabannya adalah wanita itu sendiri. Walaupun di pihak seberang, dalam hal ini kaum pria bisa menjelaskan bagaimana wanita yang baik itu, namun selalu saja ada versi yang berbeda dari wanita tentang deskripsi wanita dari sisi pikirannya. Toh wajar tak ada yang menyalahkan pendapat. Kalau salah hanya mengingatkan.

Banyak sekali uneg-uneg yang terbersit di benak pria. Bahwa wanita itu memang istimewa dengan berbagai pernak-pernik biologis sebagai pemberian sejak ia lahir. Namun pasti pada umumnya sama jika menuliskan tentang apa wanita itu di mata mereka. Beda kepala beda tulisan pastinya.

Wanita sering merasa rendah diri ketika melihat wanita lain lebih wah, lebih kaya, lebih cantik, dan kelebihan lainnya yang kalau diurut panjangnya bisa bermeter-meter. Rasa rendah diri itu terjadi karena wanita tidak mengenal dirinya luar dalam, tidak menggali apa sisi baik yang bisa jadi bekal untuk masa depan.

Padahal, para pendahulu kita mengalami diskrimminasi jauh lebih berat daripada apa yang kita alami sekarang. Sepintar apapun, pemikiran mereka tidak boleh melebihi pria. Untuk bersekolah saja mereka harus berjuang agar mendapat hak yang sama dengan kaun pria. Ini yang salah kaprah.

Terkekang adat, terkekang aturan keluarga, dan aturan lain yang menjerat kaki untuk tidak melangkah lebih tinggi melebihi pria. Padahal wanita dan pria sama saja jika dilihat dari sudut pandang sekulerisme. Namun sejatinya yang benar wanita lebih tinggi kedudukannya.

Wanita akan selalu merasa rendah diri dengan kemampuannya jika dia tidak mampu mengobati sisi psikologisnya terlebih dahulu. Padahal sejarah banyak menuliskan kisah perjuangan para wanita hebat baik di Indonesia maupun di dunia yang bangkit dari kesedihan, ketidakmampuan menjadi sesuatu yang berdaya.

Baru-baru ini viral beberapa berita tentang ketidakmampuan para ibu mengatasi beban psikologisnya. Baby blues hingga berdampak menguburr bayinya hidup-hidup, konflik batin hingga mendorong anaknya di depan gerbang sekolah, belum lagi kekerrasan dalam rumah tangga yang jumlahnya tak kunjung hilang. Apa yang salah dengan masalah psikologis para wanita ini?

Tidak mau membaca adalah masalah klasik kita, terutama wanita. Merasa senang ketika akhirnya ada yang melamar, merasa bahagia ketika pasangan melimpahi harta dan kasih sayang, merasa lebih baik daripada wanita lain ketika tetangga sebelah justru terhimpit masalah hingga tak terlihat lagi aura di wajahnya.

Kita sering terlena bahwa hidup tak seperti dongeng yang semuanya berjalan mulus. Ada satu masa dimana kita harus siap lahir batin dengan segala kemungkinan terburuk, dalam hal apapun. Padahal kadang kita tidak cukup memiliki bekal untuk melangkah lebih jauh, baik bekal ilmu, psikologis maupun bekal spiritual.

Untuk itulah, kita harus pandai membaca, bukan sekedar membaca deretan huruf tapi membaca situasi, membaca karakter, membaca lingkungan, membaca permasalahan, hingga kita memiliki bekal dan ketangguhan ketika diterpa masalah. Wanita baik dan pintar seharusnya bisa melakukannya.

Dan semua itu tidak bisa di dapatkan jika malas membaca, malas menerima kritik dan saran, malas belajar berempati, dan malas untuk mengubah diri jadi lebih baik. Kita lebih sering berfikir, " Ahh gimana nanti saja, sekarang jalanin saja seperti air yang mengalir". Dan ini adalah pemikiran yang salah kaprah.

Tanggung jawab diri sebagai wanita bukan sekedar bagaimana menjadi istri dan ibu yang baik saja tapi ada tugas penting lain, yaitu bagaimana membuat diri wanita berharga dan berkualitas hingga bisa mengemban sederet tanggung jawab yang lebih besar. Sehingga wanita bisa lebih dihargai, baik oleh sesama wanita atau oleh kaum pria.

Jangan lelah membaca, jangan lelah belajar, karena dengan membaca maka sudah barang tentu bisa mendapatkan hak yang baik setelah kita belajar meningkatkan kualitas diri. Dan wanita bisa dihargai ketika dia pun bisa menghargai dirinya sendiri.

Ayo membaca sekarang, wanita yang baik takkan tinggal diam melihat dirinya yang haus akan ilmu dan perilaku santun serta akhlaq baik bak putri dari manusia paling mulia di muka bumi, Fatimah Az-Zahra. Dan selayaknya memang harus mengarah kesana.

Cara menilai wanita yang baik mudah sekali, cukup lihat siapa temannya, bagaimana sikap yang diperlakukan kepada ibu dan bapaknya serta untuk apa waktu yang ia milikki saat sedang dalam keadaan sendiri. Bukan hanya wanita, namun begitupun dengan pria.

Namun sejatinya wanita adalah fitnah terbesar untuk kaum laki-laki di dunia, maka sudah seharusnyalah wanita menjadi tonggak utama penyelamat akhlaq laki-laki dengan menjaga dirinya yang paling utama. Karena sedikit saja lalai bisa jadi hilang kesempatan merasakan bau surga yang telah dijanjikan.

Membacalah sekarang juga, apapun itu. Tak perlu malas apalagi ragu. Karena kita semua tahu bahwa wanita adalah kunci adanya peradaban yang mulia. Yang ketika kalian rusak akhlaq maka rusaklah peradaban, sebaliknya jika akhlaq mutiara yang kalian tampakkan maka lestari dan mulialah peradaban ini.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel