Sejarah Akan Terus Berulang

Sejak zaman dahulu orang-orang dengan berbagai sifat dan karakter sudah ada. Dulu hidup matinya seseorang tergantung kemurahan hati Raja. Demi bisnis, jabatan, takhta danlawan jenis semua bisa dilakukan.


Jadi tidak perlu heran kalau zaman modern pun semua sifat buruk yang ada pada zaman dahulu tetap ada. Karena sejarah itu selalu berulang, hanya berbeda kadar dan ruang lingkupnya. Perlahan namun pasti mengisi waktu di kemudian hari.

Mulai dari kalangan bawah hingga elit politik dan pengusaha, semua akan dicoba dengan harta, jabatan, dan lawan jenis. Tidak semua orang berani jujur dan lurus menjalani hidup. Hanya yang berpedoman pada Qur'an dan sunnah yang mampu melakukannya.

Mengatasnamakan keluarga agar hidup berkebutuhan 7 turunan, demi penilaian orang lain, banyak yang berlomba-lomba menumpuk harta demi hidup mewah. Berburu jabatan seperti berburu hewan di hutan. Semua cara dilakukan mulai dari memfitnah, mengadu domba, menepiskan semua rasa kasih pada manusia.

Sikap tawadhu dan qana'ah semakin dilupakan, semakin jauh dari gaya hidup manusia modern. Status dan title pendidkan hanya label yang melekat di mata dan selembar kertas. Hakikatnya pendidikan membuat manusia makin takut berbuat salah, bersikap bijak, dan tunduk pada Allah.

Tapi semua hanya mampir ketika rumah ibadah dibuka, perayaan agama disambut dengan gembira, ketika pemuka agama menyampaikan ayat dan firman-Nya. Tapi lagi-lagi, semua berlalu bersama angin, tanpa jejak, ketika semua euforia itu berlalu seperti angin saja.

Andai nyawa bisa dibeli, tentu orang akan berlomba-lomba membeli berapapun harganya. Tapi Allah Maha Penyayang dengan memberikan nyawa hanya satu. Karena Allah tahu manusia akan semakin serakah jika memiliki lebih dari apa yang ia butuhkan. Tak ada rasa cukup didalam hatinya.

Jangan heran bila manusia modern akan mengulang sejarah nenek moyangnya, karena sejarah memang akan terus berulang sepanjang dunia masih berputar. Bukan tidak mungkin dan bahkan zaman jahiliyah dulu akan kembali ada sekarang. Bahkan tanda-tandanya sudah sering terlihat.

Maka dari itu, belilah apa yang kita butuhkan, makan secukupnya agar perut tidak membuncit, jaga pandangan agar tidak melihat hal-hal yang tidak seharusnya dilihat, bersyukur berapapun rezeki yang di dapat, dan takutlah menyakiti orang dengan lisan dan tulisan, karena mudharatnya sangatlah berat.

Sejarah akan terus terulang dan merusak diri kita, sepanjang kita tidak mau berusaha memperbaiki diri, punya rasa takut, apalagi jika selalu senang memupuk sifat serakah dan jahat. Sifat orang kafir jahiliyah yang perlahan menggerogoti iman dan taqwa umat Muslim. Maka sudah seharusnya hati-hati melakukan apapun, jika tak mau jatuh.

Hingga tutup usia pun manusia tidak akan bisa sempurna. Namun, Allah masih memberi kesempatan memperbaiki diri sepanjang nafas masih berhembus. Tak perlu takut kekurangan rezeki karena dunia ini sudah Allah penuhi dengan semua kebutuhan. Justru yang harus di takut kan adalah bagaimana cara dan jalannya rezeki sampai ke tangan diri ini?

Apakah kita sering menyakiti orang lewat tutur kata untuk memperolehnya, apakah kita menjatuhkan orang lain untuk mengambil pundi-pundi yang bukan hak kita? Apakah kita melupakan larangan-Nya dengan tujuan deretan angka 0 di bank bertambah besar? Sungguh dunia bagaikan debu semata, jika mau, Allah akan memberinya untukmu.

Tapi rasa teramat sayang-Nya-lah yang memberi kita seperti keadaan sekarang ini. Bukan tak memberi apa yang kita minta, hanya saja kadar dan jalan rizki tiap hamba itu tak sama. Ada orang kaya tapi rizkinya sedikit, banyak pula orang miskin tapi rizkinya banyak. Padahal rizki tak selalu berwujud harta saja. Salah besar jika yang menganggap rizki itu harta.

Salah besar jika mengira datangnya rizki satu-satunya lewat gaji dan pekerjaan. Mungkin orang yang seperti itu perlu memahami bagaimana hakikat rizki itu sendiri.

Sepertinya masih banyak orang yang salah persepsi mengenai pekerjaan. Kalau kamu kerjanya seperti itu nanti gak akan bisa makan. Kalau kamu kerja kaya gitu mana bisa punya barang-barang mewah. Kalau kamu kerjanya begitu mana bisa menghidupi keluarga.

Dan masih banyak doktrin subyektif lainnya. Ketahuilah wahai kawan-kawan semua, rizki seorang hamba sudah ditetapkan bahkan sebelum dilahirkan ke dunia. Dan seorang hamba tidak akan wafat kecuali semua rizkinya telah diturunkan dari langit ke bumi. Hukumnya jika kita ikhtiar maka rizki turun, begitu sebaliknya.

Jadi salah satu tugas seorang hamba ialah berikhtiar mencari rizki yang telah ditetapkan maka rizki akan didapat. Lalu mengapa ada orang-orang yang mencari rizki dengan cara yang tidak di ridhai Allah padahal besarnya rizki yang akan didapat bila menempuh jalan yang halal adalah sama saja.

Jika mencuri akan mendapatkan rizki 5 juta, sama saja jika berusaha dengan cara yang halal akan mendapatkan rizki 5 juta. Keduanya sama, yang membedakan hanya keberkahannya. Bukan perkara besar atau kecilnya yang akan didapat, namun intinya carilah rizki dengan cara yang baik niscaya kebaikan akan mengikuti.

Maka dari itulah sejarah nenek moyang akan terus berulang, sepanjang hati manusia masih dipenuhi sifat haus akan dunia yang berlebihan. Dan pada hakikatnya nya manusia diciptakan di muka bumi ini tidak lain dan tidak bukan adalah dengan tujuan untuk beribadah kepada Allah, tidak lebih.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel