Review Buku : Menjadi Orang Tua Pendidik

Cara yang dapat digunakan untuk mendidik perilaku pada anak khususnya pada masa balita sejak usia dini bermacam-macam. Dan yang perlu dilakukan oleh orangtua yaitu sebaik mungkin mendampingi dan mendidik untuk membentuk karakter dan menanamkan nilai-nilai kebaikan pada dirinya.


Cara mendidik anak banyak sekali, namun alangkah baiknya anak di didik secara islami. Masa balita hingga anak menginjak usia remaja adalah masa-masa penting dalam hidupnya. Anak yang baik dalam kehidupannya bermulai dari apa yang didapat dalam keluarga.

Misalnya ketika anak sudah tumbuh dewasa dan mandiri maka akan memunculkan anggapan positif dari lingkungan. Dan tentu saja semuanya akan kembali kepada didikkan orangtua yang diberikan. Maka tak heran jika sering muncul pernyataan bahwa "dirimu adalah apa yang orangtuamu ajarkan padamu". Memang benar, tepat sekali.

Terkait dengan pembahasan sedikit di atas saya jadi teringat tentang sebuah buku yang mana mengajarkan bagaimana menjadi sosok orang tua yang mampu menjembatani nilai-nilai positif untuk diajarkan kepada sang anak agar kelak di kemudian hari saat anak dewasa mampu menjadi sosok pribadi yang mencerminkan nilai-nilai positif yang telah diajarkan dari kedua orangtuanya.

Buku tersebut berjudul menjadi orang tua pendidik yang ditulis oleh Reza Farhadian pada tahun 2005. Langsung saja berikut resensi isi-isi serta sedikit review dari buku menjadi orang tua pendidik.

“Menjadi Orang Tua Pendidik”
Penulis : Reza Farhadian
Tebal :180 halaman
Penerbit : Al-Huda, 2005
ISBN : 979-3502-33-9


JUDUL RESENSI : “Mendikte Peran Pendidik Sebagai Orang Tua

Menjadi orang tua pendidik memegang peranan yang sangat penting dan strategis dalam proses mendidik dan mengasuh anak. Sulit dapat dibayangkan bagaimana proses mendidik anak dapat dilaksanakan dengan baik.

Jika orang tua tidak mengetahui dan memahami peran dan tanggung jawab serta cara-cara dan fase perkembangan yang dilalui oleh seorang anak, olehnya buku ini sangat edukatif dalam memberikan gambaran terhadap peran pendidikan sebagai orang tua.

BAGIAN I

PENDIDIKAN ANAK DAN TAHAP-TAHAP PERKEMBANGAN ANAK

Bagian ini diawali oleh Imam Khomeini bahwa “paling beratnya penderitaan akibat penjajahan dan penindasan adalah terhadap kepribadian dan kemanusiaan, dan penjajahan itu mereka mulai dari masa kanak-kanak sehingga anak-anak kita terperangkap kedalam sebuah Perubahan Besar sebagaimana yang mereka inginkan.”

Oleh sebab itu patutlah sebagai orang tua lebih mawas diri terhadap perannya dalam mendidik dan mengasuh anak-anak mereka. Rasulullah SAW dalam riwayatnya telah membagi Tahapan pertama kehidupan seorang insan kedalam tiga bagian penting.

Tiga bagian penting itu adalah saat “anak dalam tujuh tahun pertama adalah RAJA, tujuh tahun kedua adalah pembantu (yang harus taat dalam menjalankan perintah), dan tujuh tahun ketiga menjadi WAZIR (menteri) yang bertanggung jawab terhadap tugas-tugasnya.”

Masa tujuh tahun pertama (masa kanak-kanak), atau disebut juga masa raja, dimana betul-betul diperlakukan sebagaimana seorang raja (kecil) dalam artian anak mendapatkan keinginannya, agar mereka dapat dengan mudah memasuki masa ketaatannya sehingga senantiasa menaati setiap kata orang tua atau pembimbingnya.

Masa tujuh tahun kedua (masa pra remaja), atau disbeut juga masa pembantu. Masa ini perubahan mulai terlihat didalam diri seorang anak, tubuhnya lambat laun mulai membesar dan bisa dikatakan telah memiliki fisik yang kuat.

Akalnyapun mulai berkembang, dan telah mampu mbedakan antara baik dan buruk. Dari sini ia mulai bisa menerima perintah dan menjawab persoalan-persoalan yang mudah.

Namun karena akal anak-anak belum tumbuh secara sempurna, mereka belum bisa membedakan secara benar, mana yang baik dan mana yang buruk bagi dirinya.

Pada masa inilah menjadi kewajiban utama orang tua dan pendidik untuk memberi pendidikan, pengarahan dan pengajaran agar anak mampu melalui masa pendidikan dengan benar dengan adab-adab yang benar.

Masa tujuh tahun ketiga (masa remaja), masa ini dimulai sejak umur 15 tahun, pada masa ini anak yang kemarin periang dan lincah, kini berubah menjadi remaja yang sangat perasa dan perubahan yang terjadi secara cepat dalam dirinya seperti munculnya tanda-tanda puber.

Hal ini sangat mempengaruhi kondisi psikologisnya, demikian pula seiring telah munculnya kekuatan bioligis dalam dirinya, muncul pula perasaan yang khusus pada lawan jenisnya.

Dalam kondisi ini anak sudah mulai mencari dan mencontoh teladan dan favoritnya dari tingkah laku, penampilan hingga gaya berbicara menjadi cerminan bagi mereka.

Pada akhirnya peran orang tua pada masa remaja apabila dilakukan secara benar akan membuat remaja secara bertahap meninggalkan sifat-sifat kekanakannya dan menampilkan sifat-sifat kedewasaannya.

Rasulullah SAW mengibaratkan masa ini dengan kalimat Wazir yaitu setelah peran ketaatan dilalui, sekarang mereka memasuki peran sebagai seorang wazir yang memiliki tanggung jawab dalam keluarga.

Pada akhirnya pada tahapan pertama kehidupan yang telah diriwayatkan Rasulullah SAW kedalam tiga bagian penting, orang tua memegang peran central yang diwajibkan terjun langsung kedalam kehidupan anak.

BAGIAN II

PRINSIP-PRINSIP POKOK TATANAN PENDIDIKAN ISLAM

Pada Bagian ini diawali oleh Imam Ali Zainal Abidin bahwa “ hak-hak anak-anak kaliann terhadap kalian adalah mengetahui bahwa diri mereka berasal dari diri kalian. Perbuatan baik dan buruk mereka di dunia tergantung kepada kalian. Kalian bertanggung jawab terhadap pendidikan dan ketaatan yang mereka lakukakn terhadap ALLAH.

Maka, berbuatlah terhadap mereka sebagaimana perbuatan seseorang yang mengetahui bahwa perbuatan baik terhadap mereka adalah pahala dan meremehkan mereka berarti siksa.” Hal ini menekankan peran orang tua dan pendidik sebagai teladan atau contoh bagi anak didik mereka.

Bagian ini menjelaskan landasan yang islami sebagai pondasi utama dalam mendidik anak seperti memahami dan memahamkan tentang Tauhid, Takwa dan Tabah.

Kemudian dilanjutkan dengan peran orang tua dan masyarakat dalam mendidik melalui lingkungan Informal dan Nonformal, dimana proses ini berlangsung secara berkesinambungan dengan meletakkan kasih sayang, norma dan adab sebagai acuan dan cerminan dalam bermasyarakat.

Bagian ini lebih menekankan pada batasan-batasan dalam tindakan dan perilaku sebagai pendidik agar tidak keluar dari batas dan norma yang telah ditetapkan dalam ajaran agama dan lingkungan masyarakat.

Bagian ini mengupayakan kolaborasi antara orang tua dan pendidik bersama pihak sekolah agar terjadi kerjasama yang harmonis, sehingga mampu mencegah kesenjangan berdasarkan pada rambu-rambu yang berlaku dimasyarakat.

BAGIAN III

PENDIDIKAN ANAK DAN KELUARGA DALAM AYAT DAN RIWAYAT

Bagian ini diawali dengan Riwayat Rasulullah SAW bahwa “orang yang bahagia ditentukan kebahagiannya ketika masih berada diperut ibunya, dan orang yang sengsara ditentukan kesengsaraannya ketika masih berada diperut ibunya.” Oleh karenanya pendidikan anak dan keluarga patutlah dipersiapkan sedari awal.

Bagian ini menitik beratkan bagaimana pentingnya pendidikan berkeluarga hingga melahirkan keturunan (anak).Rasulullah SAW bersabda “lihatlah dimana kalian akan meletakkan nutfah kalian karena akhlak nenek moyang akan diwarisi oleh keturunan-keturunannya.”

Hal ini menandakan bahwa dalam melahirkan keturunan hendaklah dimulai dengan cara-cara yang baik. Kemudian dilanjutkan Rasulullah SAW bahwa “kecintaan pertama yang terlihat dari seorang ayah terhadap anaknya adalah pemberian nama yang baik bagi anak-anaknya.”

Kemudian diperjelas mengenai hak-hak perempuan dan kewajiban suami begitupun sebaliknya agar mampu melahirkan dan mebinan keturunan yang baik.

Begitu pula dijelaskan mengenai hak-hak anak dan kewajiban orang tua terhadap anak, sehingga tercipta suatu keluarga yang harmonis, rukun dan adil.

Maka “maafkanlah dan tutuplah matamu tehadap kesalahan anak-anak (yang terjadi karena kurangnya pengalaman), karena itu akan menjadi penyeBagian kembalinya dan taubatnya mereka. Jadilah teman bagi mereka pada kondisi yang susah karena hal itu lebih cocok untuk pengarahan dan pertumbuhan mereka.”

KRITIK PEMBACA
Pada bagian pertama penulis telah menjelaskan Tahapan pertama kehidupan (Rasulullah SAW) yang dibagi menjadi tiga bagian penting, namun penulis tidak menjelaskan bagian kedua ataupun penjelasan mengenai bagian selanjutnya.

Pada bagian kedua Akan lebih menarik jika penulis memberi sedikit gambaran aplikatif yang dapat dilakukan atau dikolaborasikan dengan pendidikan Formal (sekolah), misalnya berupa sistem atau metode yang dapat diterapkan secara sistematis kedalam pendidikan formal.

Pada bagain ketiga akan lebih kompleks jika diberikan gambaran mengenai perkembangan jaman seiring dengan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) sehingga pembaca mampu menyesuaikan dengan kondisi kekinian (Kids Jaman Now), sehingga para orang tua pendidik juga mampu menjwab tantangan teknologi hari ini.

KESIMPULAN
Buku ini menjelaskan konsep-konsep mendidik anak dengan bahasa yang sangat sederhana dan mudah dipahami, sehingga sangat dianjurkan bagi para orang tua khususnya orang tua Jaman Now untuk membaca buku ini.

Landasan yang islami dengan pendekatan-pendekatan empati dan kasih sayang mewajibkan orang tua hadir dalam kehidupan anak-anak mereka serta senantiasa andil dalam pertumbuhan dan perkembangan anak.

Buku ini adalah lampu merah bagi para orang tua dan pendidik yang telah melalaikan tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang pendidik. Menjadi orang tua pendidik dimulai pada saat akan memilih untuk meletakkan nutfah pada pilihan yang benar.

Buku Menjadi Orang Tua Pendidik adalah pilihan bagi para orang tua atau pendidik untuk kembali memulai jika merasa sudah tertinggal, karena tidak ada kata terlambat untuk bertaubat. “pendidikan bukan sesuatu yang diterima melainkan sesuatu yang didapatkan”.

Semoga bermanfaat!!!

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel