Sebelum, Saat dan Sesudah Kuliah di STAN (Cerita Singkat Alumni)


Diantara banyaknya perguruan tinggi kedinasan yang paling banyak pendaftarnya adalah STAN. Selain itu juga masih ada STIS di urutan selanjutnya. Kami tidak akan mereview lebih bagus mana antara STAN dan STIS, melainkan bercerita mengenai apa saja yang terjadi ketika sebelum, saat, dan setah kuliah di STAN. Penasaran? Simak ceritanya dibawah!

Seru dan menantangnya sebelum, saat, dan setelah kuliah di STAN :

1. Sebelum

Disinilah awal perjuangan masuk STAN, berlomba lomba merebutkan satu kursi di kampus Ali Wardhana ini. Ya, USM PKN STAN yang tahun ini berganti nama jadi PMB PKN STAN. Tidak banyak yg berbeda pada tahun sebelumnya hanya kuota dan jumlah pendaftar yang makin banyak.
Tahapan yang akan dilalui calon PKN STANers adalah ujian tertulis, Tes kesehatan dan Kebugaran (TKK) serta Test Kompetensi Dasar (TKD).

Test Tertulis

Pada tes ini banyak sekali yang berguguran dan hampir 90% pendaftar gugur di tahap ini. Maka tak ayal banyak sekali peserta USM bimbel dan berbagi waktu belajar UN dan USM. Pihak Bimbel pun tak mau kehilangan peluang, mereka melihat partisipasi calon PKN STANers cukup banyak sekali. Mereka membuka kelas mulai dari ratusan ribu hingga ratusan juta dengan tawaran dan fasilitas yang menarik. Padahal pola dan tipe soalnya tidak jauh berbeda loh, cuma enaknya kalau bimbel ada trik dan tipsnya, pengalaman mahasiswa PKN STAN serta teman belajar.

Test tertulis terdiri dari dua bagian yaitu TPA (Tes Potensi Akademik ada 120 Soal dan TBI (Tes Bahasa Inggris) ada 60 Soal. Pada tahap ini juga berlaku nilai mati yaitu 1/3 dari jumlah tiap-tiap bagian soal.

Test Kesehatan dan Kebugaran (TKK)

Setelah test tertulis, peserta harus menghadapi TKK. Agak sulit memang perhitungannya. Ada yang berpendapat bahwa lari 5-6 kali putaran pasti lolos dan shuttle run dibawah 20 detik pasti lolos. Namun saran saya tetap berikan yang terbaik pada setiap kali tahapan tes.

Test Kompetensi Dasar (TKD)

Salah satu test yang menggunakan sistem CAT. TKD terdiri dari 3 tipe soal yaitu TWK (Tes Wawasan Kebangsaan) , TIU (Tes Intelegensi Umum ) dan TKP (Tes Karakteristik Pribadi). Dan setiap sub tes TKD memiliki nilai mati. Jumlah soal yang diujikan pada TKD adalah 100 soal.

Waktu untuk mengerjakan 100 soal ini hanya 90 menit, jadi setiap soal kurang dari 1 menit saja. Maka dari itu banyak peserta TKD yang tidak lulus karena terkendala masalah waktu.

A. TWK

TWK terdiri dari 35 Soal dengan sistem penilaian jika menjawab benar akan mendapat poin 5 dan jika salah atau tidak dijawab mendapatkan poin 0. Pada TWK ini peserta diwajibkan untuk menjawab 40% dari jumlah seluruh soal. Jadi nilai maksimalnya 175 sedangkan nilai minimal atau nilai matinya adalah 70.

B. TIU

TIU terdiri dari 30 Soal dengan penilaian jika benar mendapat poin 5 dan salah atau tidak dijawab mendapat poin 0. Pada TIU peserta diwajibkan untuk menjawab soal dengan benar minimal 50% dari jumlah seluruh soal. Jadi jika nilai maksimal dari TIU 150 maka nilai ambang batas atau nilai matinya adalah 75.

C. TKP

TKP terdiri dari 35 Soal, dengan pembobotan 1 sampai 5 dari pilihan jawaban A, B, C, D, dan E. Pada tes ini peserta diwajibkan untuk menjawab dengan benar 72% dari seluruh soal jadi nilai maksimalnya 175 sedangkan nilai minimal atau nilai matinya adalah 126.

Uniknya dari tes TKD ini adalah hasil langsung keluar dan bisa mengetahui rangking tiap peserta.

Setelah lulus rangkaian Ujian PMB PKN STAN, Maka calon mahasiswa akan di tempatkan di BDK atau Bintaro sesuai dengan jurusan yg ditentukan oleh pihak penyelenggara. Calon mahasiswa hanya bisa memilih, tapi penyelenggara lah yang menentukan jurusan.

2. Saat Kuliah

Mungkin tidak ada persaingan seperti halnya saat PMB, disini kekompakan dan kerjasama antar mahasiswa yang dibutuhkan karena mereka harus melewati serangkaian ujian yang mungkin bisa menyebabkan DO bila nilai tidak memenuhi syarat yang ditentukan.

Hal-hal yang bisa menyebabkan DO antara lain :

  • 1. Menyontek (indispliner)
  • 2. Absen lebih dari 3x tiap mata kuliah
  • 3. IP kurang dari 2,6 dan IPK kurang dari 2,75
  • 4. Nilai D pada matkul MPK, MKB dan MPB
  • 5. Memperoleh nilai E
  • 6. Melanggar aturan atau berbuat onar lainnya

Untuk menghindari itu semua butuh yang namanya kepedulian, saling mengingatkan jika ada teman yang tidak masuk. Jangan egois dan tentunya harus sering-sering belajar bareng atau tentir.

Untuk yang D3 maka ada yg namanya menyusun KTTA. Disini juga ada ketentuannya salah satunya minimal nilai B. Kalau tidak salah menyusun KTTA itu sekitar 3 bulanan. Nah disini mahasiswa harus pintar-pintar milih tema dan judul KTTA.

Untuk mahasiswa tingkat akhir diwajibkan untuk PKL. Disini juga ada ketentuannya loh, minimal 80% kehadiran. Kalau dibawah itu jangan harap ya. Kabar baiknya pada kegiatan PKL ini kita digaji juga loh.

3. Setelah Kuliah

Masa setelah kuliah bukan berarti perjuangan usai untuk dapat titel PNS. Masih banyak serangkaian kegiatan yg harus dihadapi.

A. On The Job Training (OJT)

Mahasiswa diwajibkan untuk OJT kurang lebih setahun. Selama OJT pula disesuaikan dengan instansi penempatan mahasiswa. Tentunya pada OJT ini kita juga di gaji jadi tenang saja dan pastinya rapelannya itu yg paling ditunggu-tunggu.
Manfaatkan masa OJT ini sebelum penempatan definitif, pahami karakter instansimu dan pegawainya juga.

B. DTU (selain BC) / Samapta (BC)

DTU atau Diklat Teknis Umum adalah satu dari sekian diklat yang wajib dijalani para CPNS. Diklat ini menjadi semacam momok karena berada di bawah tekanan Kopasus. DTU biasanya dilaksankan 7-10 hari. Namun biasanya tergantung instansi yang bersangkutan. Sedangkan samapta itu sekitar 5 mingguan. Apa saja yang dilakukan pada saat Samapta ? Yang dilakukan pada saat Samapta adalah belajar bareng dengan kopasus.

C. DTSD

DTSD atau Diklat Teknis Substansive Dasar ini dimaksudkan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap secara menyeluruh mengenai pengetahuan perpajakan para calon pegawai Ditjen Pajak (DJP) yang akan melaksanakan tugas di lingkungan DJP.

Pada saat DTSD kita akan kembali kuliah tapi bukan di kampus asal melainkan pusdiklat tiap instansi. Sama seperti saat di kampus, pada saat DTSD juga ada ujiannya yang biasanya dilaksanakan 3 minggu.

D. Diklatsar (dulu namanya Prajab)

Tahun ini konsepnya berbeda dengan tahun sebelumnya. Polanya adalah belajar dikelas, Mfd dan melaksanakan aktualisasi.
Dalam melaksankan Aktualisasi kita akan diwajibkan menyusun RPA. Nah setelah itu harus mencari ISSUE yg terjadi dikantor. Setelah menetukan ISSUE harus melaksankan kegiatan yaitu 6-10 kegiatan dan di setiap kegiatan itu ada 3-5 tahapan kegiatan dan harus sesuai dengan ANEKA. Pada setiap tahapan kegiatan harus ada dokumentasinya baik berupa video, foto maupun rekaman lainnya. Yang kemudian hasilnya di evaluasi oleh coach dan penguji ditempat masing-masing.

Kalau pada tahun sebelumnya jika gagal atau tidak lulus prajab bisa mengulang ditahun selanjutnya namun saat ini (Diklatsar) jika tidak lulus maka GAGAL jadi PNS. Minimal kelulusan adalah diatas 70.

Oleh karena itu diperlukan kerjasama dan kekompakan.
Di diklatsar ini juga ada kopasusnya dan pelaksanaan diklatsar ini sekitar 5 bulan lamanya.

Penutup

Mungkin itu aja sedikit gambaran sebelum, saat dan sesudah kuliah di STAN. Akhir kata bagi kamu para pejuang PMB PKN STAN kami tunggu kalian disini.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel