Pengalaman Lolos UGM Dan UNDIP oleh Novi Aprilianti

Pengalaman Lolos UGM Dan UNDIP oleh Novi Aprilianti - Mahasiswi UGM 2016

Kuliah, adalah salah satu jembatan kita menuju kiat kata sukses. Siapa sih yang tidak ingin sukses? Pastilah semua orang ingin sukses, Dan saya yakin adik-adik semua pasti ingin kuliah di PTN. Iya perguruan tinggi negeri. Tapi sayang perebutan kursi di PTN tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Aku, bukan seorang pelajar yang pintar. Bahkan aku sekolah di SMA terpencil di sebuah kota yang tak sempat dikenal orang banyak. Di sekolah yang terpencil itupun aku tak sanggup mengukir prestasi gemilang.

Terus terang di sekolah yang amat jauh dari kata sekolah terbaik ini aku tak pernah lolos masuk peringkat 10 besar dikelas. Bayangkan saja, di sekolah daerah terpencil ini yang notabene kalah saing jauh dengan sekolah sekolah yang ada di perkotaan besar ini saja aku tak mampu menjadi yang terbaik, bagaimana aku bersaing untuk mendapat satu kursi di PTN?. Mustahil.

UGM, pertama kali aku berseru ketika temanku bertanya mau kuliah dimana. Iya aku dengan percaya diri menjawab UGM. Kalian tahu apa reaksi mereka? Mereka tertawa. Haha. Iya tertawa. 'Kamu itu bukan orang pintar mau masuk ugm' sebuah celetukan yang menyayat hati.

Tapi ketika usai perdebatan singkat itu aku mulai tertegun dan sempat berfikir untuk mengurungkan niatku buat masuk ke PTN terbaik itu. Alumnus sekolahku yang bisa lolos UGM bisa dihitung dengan jari sebelah saja, dan mereka itu adalah pelajar berprestasi paling tidak peringkat 3 besar paralel di sekolahku. Sedangkan aku? 10 besar di kelas saja tidak pernah.

Kelas 12. Waktunya UN dan mulai mempersiapkan diri untuk mendaftar kuliah. Pendaftaran pertama SNMPTN. Aku konsultasi ke BK hampir setiap hari, dan setiap ditanya BK aku selalu bilang ke UGM. Dan Berkali-kali BK berkata 'Nilai kamu tidak cukup buat ke UGM, mending kamu kalau ingin aman pilih PTN lain' .

Iya aku sempat berfikir ke universitas lain. Ingin ke UNNES mengambil Pendidikan Matematika, aku sudah mantap hati memilih UNNES. Keesokan harinya aku di panggil oleh BK dan dengan berat hati aku mendengar kata ' si A (peringkat 1 di kelasku) memilih Pendidikan Matematika UNNES , nilaimu jauh kalau dibanding di A, jadi kalau mau aman kamu pilih jurusan lain saja ' .

Waktu itu sudah H-7 penutupan pendaftaran SNMPTN, aku sudah bingung mau milih jurusan apa, karena nilai raportku yang lumayan bagus cuma matematika dan yang kedua itu fisika. Akhirnya aku pilih Pendidikan Fisika UNNES. H-1 penutupan pendaftaran aku ke BK dan bilang mau pilih Pendidikan Fisika UNNES.

Dan lagi-lagi BK berkata ' si B (peringkat 2 dikelasku) memilih Fisika, nilaimu kalah jauh dari dia lebih baik kalau mau aman pilih yang lain saja '.

Aku sedih dan ingin marah. Kenapa dunia ini harus diisi oleh orang orang pintar semua. Apa orang yang tidak pintar tidak boleh merasakan senang?. Tapi ya memang inilah derita orang tidak pintar.

Aku sudah lelah hati konsultasi ke BK. Di akhir pendaftaran aku mengisi pendaftaran secara online tanpa sepengetahuan BK. Lalu aku milih Teknik UGM. Dengan berfikiran 'kalau emang nilai segini tidak bisa lolos UGM tidak apa-apa setidaknya aku sudah mencoba, daripada aku daftar ke PTN lain juga tidak akan lolos karena kalah nilai dengan teman-temanku' .

Aku pasrah sepasrah-pasrahnya. Setelah dikunci pendaftaran aku pun lalu bertemu dengan temanku yang peringkat 1 dan 2 dikelas dan berbincang ringan basa-basi bertanya kuliah dimana.

Yang peringkat 1 menjawab Matematika UGM dan yang peringkat dua menjawab PGSD Unnes. Sontak aku langsung kaget lah ya. Syok tentu. Jadi? Tidak ada yang memilih Pendidikan Matematika dan Pendidikan Fisika di UNNES?. Sumpah rasanya ingin marah semarah-marahnya.

Ingin aku berkata kasar, ingin nangis juga karena rasa di hati sudah campur aduk. Padahal kata Guru BK, nilaiku berpotensi masuk Pendidikan Matematika UNNES. Tapi ya sudahlah, orang pintar memang punya hak kok. Yang tidak pintar mah tunggu sisanya orang pintar. Berhari-hari aku hanya pasrah dengan rasa penyesalan dan rasa kecewa pada diri sendiri.

Setelah pendaftaran SNMPTN usai, ada pendaftaran PTN lain yang melalui jalur rapot juga (PMDK). Aku ingin daftar Polines di jurusan Administrasi Negara dan Akuntansi. Dan sedihnya lagi teman ku yang pintar itu memilih pilihan yang sama denganku.

Ya walaupun aku memaksakan diri untuk mendaftar pun aku tidak akan di terima kan. Sudah bisa dilihat hasil rata-ratanya jauh sekali. Peringkat 1 dengan peringkat 12 sudah kelihatan. Ya sudahlah memang yang tidak pintar itu harus menunggu sisanya orang pintar.

Dan itu berulang ulang ke semua jalur pendaftaran lainnya. Iya sakit memang. Seakan-akan tidak ada hak untuk aku yang tidak pintar untuk dapat PTN. Setidaknya dia yang pintar itu pilih satu saja tapi fokus dan tidak usah menutup jalan untuk yang tidak pintar. Tapi ya mau bagaimana lagi? Memang salahku sih jadi orang tidak pintar.

Pengumuman SNMPTN...

Satu demi satu PTN yang aku daftari sudah pengumuman. Aku pun membukannya dengan perasaan pasrah sepasrah pasrahnya. Karena pasti aku tidak lolos. Dan benar, aku gagal di semua jalur rapot.

Putus asa...

Putus asa sempat sih, tapi tidak berlarut larut. Bahkan aku sudah bilang ke orang tuaku mau lanjut kuliah ke swasta kalau tidak dapat PTN. Karena aku sudah berfikir, aku tidak pintar. Di sekolah ini saja aku sudah kalah saing apalagi untuk masuk PTN yang semua orang ingin masuk PTN. Persaingan sehat pun aku pasti kalah.

Tapi aku tidak mau putus asa. Masih banyak jalan menuju Roma. Itu kata ayahku. Aku ikut bimbel di daerahku. Walaupun perjalan menuju bimbel dari rumahku ditempuh sekitar 1,5 jam naik motor.

Aku tetap menjalaninya setiap hari. Bayangkan saja bagaimana capeknya. Pagi sekolah sampai sore terus lanjut bimbel dengan perjalanan jauh pulang malam setiap hari. Dan dalam hati aku berniat ini menuntut ilmu bukan mengikuti nafsu.

Di bimbel aku merasakan banyak perubahan, adalah manfaatnya tidak sia-sia aku jauh-jauh untuk ikut bimbel. Aku mulai belajar SBMPTN fokus, dan aku juga mulai tertarik dengan USM PKN STAN. Lalu aku daftar STAN dan lagi-lagi temenku yang pintar ikut daftar STAN lagi.

Tapi ya sudahlah itu hak dia. Dan akhirnya aku tidak lolos lagi. Pengumuman penolakan warna merah sudah menjadi makanan sehari-hariku. Sampai-sampai aku sudah tidak kaget bila keluar tulisan Maaf. Ironis sekali kan.

Dan kembali ke rutinitas belajar SBMPTN dan mengikuti semua try out yang diadakan di kotaku. Tidak ada yang kelewatan. Soal SBMPTN dari tahun ke tahun sudah menjadi makananku. Aku lebih percaya diri menghadapi SBMPTN.

Aku lebih siap dengan semua bekal yang aku punya. Dengan modal belajar bimbel dan belajar soal-soal tahun lalu aku siap.

Hari H Ujian SBMPTN...

Hari ini tes SBMPTN, waktu itu aku tesnya di SEMARANG karena di kotaku tidak ada tes SBMPTN. Aku merantau ke kota orang lalu mengadu keberuntungan dan dengan optimis bisa mengerjakan SBM dengan lancar.

Aku masuk kelas dan pengawas membagikan soal. Sebelum buka soal aku berdoa terlebih dahulu. Hehe. Aku mengerjakan soal saintek terlebih dahulu, dan soalnya tidak mudah juga. Aku banyakin doa disini karena aku sudah nyerah lihat soal Fisika, Matematika, dan Kimia SBMPTN yang tidak bisa dikerjain, materi dari bimbel pun tidak ada yang keluar.

Ingin marah sekali rasanya, ingin nangis. Tapi aku menenangkan diri masih ada soal TKPA. Dan ketika soal TKPA dibagikan. Dan berkata dalam hati. Tipe soalnya jauh sekali dari soal tahun lalu. Dengan seribu jurus banyakin doa aku mengerjakan soalnya sampai tuntas.

Dan keluar dari tempat ujian dengan muka yang kusut sekusut kusutnya. Dan sudah tidak berharap sama yang namanya lolos PTN.
Tapi masih punya tanggungan. Masih ingin mencoba UTUL UGM.

Daripada aku mati penasaran tidak daftar UGM (aku SBMPTN tidak berani ambil UGM). Lalu 3 hari setelah SBMPTN aku langsung berangkat menuju Jogja untuk ikut tes UTUL UGM. Berbekal nekat, benar-benar nekat. Tidak ada saudara sama sekali di Jogja, dan hanya pergi dengan satu temanku.

Ya inilah perjuangan, apapun hasilnya yang penting pernah berjuang lah ya. Tes UTUL sudah usai dan aku melaluinya dengan sangat biasa saja. Dan udah tidak ada greget hati untuk kuliah di PTN. Dan setelah tes SBMPTN dan UTUL UGM aku sudah tidak mau ikut UM apapun. Buang-buang uang dan tenaga. Pikiran bodoh memang.

Menunggu pengumuman SBMPTN...

Lalu kini tinggal menunggu hasil pengumuman yang sudah pasti aku yakin tidak akan bisa lolos. Toh kalau keluar tulisan merah tertulis 'Maaf' aku sudah kebal. Aku mulai menyiapkan berkas untuk daftar kuliah ke swasta. Rasanya sudah lelah mengejar PTN. Tapi tidak tahu kenapa setiap aku mau daftar selalu ada saja halangan sampai hari pengumuman hasil SBMPTN dan UTUL UGM.

Saat Pengumuman...


Hari ini pengumuman. Semua orang banyak yang akan nangis bahagia dan sedih. Tapi aku malah sempat tidak ada niat untuk membuka hasil pengumuman. Memang bodoh si aku waktu itu. Tapi karena di grup kelas sudah berisik sana berisik sini dan yang membuat aku kaget adalah temanku yang lebih pintar dari aku ternyata tidak lolos SBMPTN yah aku langsung berfikir begini kan 'yang pinter saja tidak lolos apalagi aku' .

Wkwk. Tapi ibuku memaksa untuk buka dan lihat apa yang terjadi. Aku buka nya lama sekali karena server sedang down. Dan loading, pertama aku lihat warnanya pasti merah seperti dugaanku, tapi yang terlihat bukan warna merah. Aku kaget dan pelan pelan membaca 'SELAMAT KAMU LOLOS SBMPTN 2016' seketika aku teriak dan nangis memanggil ibu.

Ibuku pun ikut menangis. Aku lolos SBMPTN UNDIP. Sudah campur aduk perasaan ku kala itu, setelah semua tulisan merah yang selalu kudapat kini aku dapat tulisan biru. Alhamdulillah.

Pengumuman UTUL UGM...


Eiittss. Tapi masih ada satu pengumuman lagi. Iya UTUL UGM. Dua hari setelahnya aku membuka pengumuman UTUL UGM, aku ingat pengumumannya itu hari jumat jam 20.00 waktu itu pas bulan puasa dan habis sholat tarawih aku langsung buka.

Dan aku biasa lagi, karena sudah dapet UNDIP di sbm jadi aku gak terlalu pusing kalau seumpama nanti tidak lolos. Tapi Tuhan sungguh punya rencana yang luar biasa. Aku lolos UTUL UGM. Alhamdulillah. Rencana Tuhan sungguh indah.

Kesimpulannya...

Sukses bukan untuk mereka yang pintar tapi untuk mereka yang mau berusaha. Karena gagal adalah guru terbaik untuk kita. Skenario Tuhan lebih Indah.

Untuk kalian semua yang sedang berjuang, semangatlah, jangan takut gagal, habiskan jatah gagalmu. Semoga sukses.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel