Pengalaman Gagal SBMPTN Dan Hikmah Yang Terkandung Didalamnya

Cerita ini merupakan kisah nyata yang dialami teman saya sendiri tentang pengalaman gagal, terutama SBMPTN. Dia gagal berkali-kali masuk PTN hingga akhirnya putus asa. Lalu dari keputus-asaan itu dia sadar dia harus berubah mengejar mimpinya. Sampai kemudian dia diterima kuliah di PTN yang tidak di sangka-sangka sebelumnya. Hatinya seolah memberontak. Namun setelah melihat kebanggaan raut muka orangtuanya, dia mencoba ikhlas menerima kenyataan. Bahwa hidup harus menerima, penerimaan yang ikhlas. Bagaimana? Penasaran dengan ceritanya?

Oke, simak saja ceritanya dibawah.


Baca juga : 5 Tips Memilih Jurusan Kuliah Agar Tidak Salah Jurusan

Saya mau cerita pengalaman saja. Tapi tidak terlalu panjang ya. Jadi kalau memang tidak mau baca langsung Share boleh kali ya. Hehe. Saya selalu bilang ke adik-adik saya (adik kelas). Kalau memang dari awal masuk SMA/MA/SMK memang tujuan awalnya setelah lulus mau melanjutkan studi ya sudah fokus saja dengan sekolahnya dan apa yang mau dituju.

Misal mau melanjutkan pendidikan ya diforsir waktunya untuk mengejar itu.
Disini saya cuma mau cerita saja pengalaman sendiri yang pernah saya alami. Kesalahan terbesar adalah saat menghabiskan waktu yang sebegitu lamanya di bangku kelas 10 sampai kelas 11.

Di kelas 12 itu benar-benar sudah kalang kabut mau cari kuliah. Hingga saya benar-benar mengejar ketertinggalan mapel untuk
SBMPTN. Singkat cerita, SNMPTN tidak lolos padahal itu prodi yang saya pengen banget. Hingga SBMPTN pun tidak lolos sekalipun saya masuk di prodi yang minat paling utama.

Pun pendaftaran PT Kedinasan tidak lolos pula. Semua jenis pendaftaran mandiri di seluruh PTN saya sudah coba dan hasilnya nihil. Di saat yang bersamaan teman-teman saya udah mendapatkan PTN yang mereka incar sejak awal masuk SMA. Mereka ada yang diterima di Akpol, STAN, STMKG, IPDN, FK, FKh, Hukum, Psy, FMIPA dsb.

Saya awalnya minder ke mereka, karena hanya saya yg belum diterima di universitas.
Hingga saya pun berada di titik saat dimana saya pasrah kepada Tuhan akan masa depan pendidikan saya. Saya terus mencoba mendaftar di beberapa PTN di Pulau Jawa, hingga Luar Pulau Jawa.

Dan pada akhirnya Tuhan memberikan jawaban terbaik atas usaha-usaha saya. Kenapa saya bilang terbaik?. Karna apapun yang memang sudah digariskan Tuhan saya harus menerima dengan ikhlas dan bertanggung jawab dengan segala konsekuensinya.
Universitas yang selama saya duduk dibangku SMA sama sekali tidak pernah terlintas untuk mendaftar justru saya masuk di sini.

Di awal-awal saya nangis. Nangis karena tidak sanggup menerima kenyataan, tapi setelah saya berpikir kembali pun saya melihat kebanggaan di kedua orang tua saya "alhamdulillah akhirnya anakku dapat PTN". Lalu saya pun mencoba kembali menerima dengan ikhlas jawaban Tuhan untuk semua usaha-usaha saya.

Adik-adik semua, masuk PTN itu tidak semudah membalikkan telapak tangan dengan hanya kalian belajar. Jika kalian lengah 1 detik saja, diluar sana kalian sudah tertinggal jauh dari mereka-mereka yang punya prinsip dan tekad sejak awal. Masuk PTN yang "katanya" mahal, jangan pernah terbelenggu sama mindset itu. Usaha dulu.

Tapi bukan berarti kalian mengandalkan uang untuk menghalalkan segala cara. Pemerintah itu memberikan subsidi penuh di bidang pendidikan, banyak beasiswa berhamburan di universitas. Jangan khawatir tentang biaya dulu. Kalau kalian selalu bilang, "wah masuk FK pasti pintar nih, jago matematika, jago biologi, duit banyak nih". "Wah masuk hukum, wah masuk TNI, wah masuk di Akpol", "wah keterima di STAN, pasti pintar banget itu dia".

Apa kalian cuma mau bilang kaya gitu? Hallo guys, mereka-mereka yang bisa seperti itu bukan hanya sekadar belajar dan berlatih. Tapi benar-benar ikhtiar sejak awal, bahkan sejak mereka duduk dibangku SMP. Mereka memanfaatkan waktu mereka untuk membuat prestasi yang baik, mengejar nilai akademik dan non akademik.

Menyeimbangkan waktu remaja. Susah? Iya susah. Berat memang kalo diniatkan sejak awal. Tapi hasilnya bagaimana? Bisa dilihat kan?
Sayapun menyesal dikala saya duduk dibangku kelas 3 SMA. Mengapa tidak sejak dulu saya mantapkan passion saya? Mengapa tidak sejak dulu saya kejar harapan saya?.

Pertanyaan macam "mengapa" terus saja membelenggu diri saya. Tapi setelah Tuhan menjawab segala usaha, saya bersyukur teramat dalam dengan yang telah diberikan. Jadi intinya, kuatkan tekad sejak awal, kuatkan passion kalian, kuatkan mindset kalian, kalian itu mau kemana? Minat ke jurusan apa? Ingin ke universitas mana? PTN/PTS/PTKedinasan? Jangan salah pilih jurusan juga.

Jangan hanya berpikiran sempit kalau saingan kalian hanya teman-teman satu sekolah, satu kota/ kabupaten. Saingan kalian itu sudah satu Indonesia bahkan dari Luar Negeri (untuk PTS dan PTN). Untuk jalur SSBMPTN & jalur ujian mandiri saungan kalian ditambah lagi dari angkatan 3 tahun sebelum kalian. Dan itu banyak banget.

Kenapa saya ngomong gini? Karena realitanya, saya pun mengalami hal yang sama dan saya ingin berbagi pengalaman saja. Kalo memang kalian mau maju & melanjutkan pendidikan ya stay strong dari awal. Jangan goyah dan jangan berbelok arah. Kalian lihat teman-teman kalian yang sukses dan berprestasi mereka itu tidak enak loh. Mereka rela mengorbankan waktu remaja bersama teman-teman hanya demi mengejar masa depan yg menurut mereka lebih penting.

Tapi ya memang benar kok, pendidikan itu penting. Pendidikan itu salah satu hal yang menunjukkan kemajuan suatu bangsa. Jangan hanya bisanya protes tanpa di dasari fakta-fakta yang jelas, tanpa didasari pengetahuan ilmiah yg jelas dam darimana dapat itu. Ya dari pendidikan itu sendiri.

Memang sih, mungkin beberapa dari kalian yang membaca artikel ini berbeda pendapat dengan saya, wajar memang. Sangat wajar. Tapi saya harap pembaca yang sabar membaca mampu memaklumi semua yang saya tulis. Saya hanya berniat berbagi pengalaman dan tidak lebih.

SELESAI.......!!!

Dari cerita diatas banyak hikmah yang bisa kita ambil. Kalau mau sesuatu itu harus berusaha dulu untuk mendapatkannya. Kalau punya mimpi yang besar, perlu juga usaha yang besar. Tidak ada mimpi dan harapan yang terlalu tinggi, yang ada hanyalah usaha yang kurang besar. Sesederhana itu.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel